Tulisan Baru

Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saturday, 6 May 2017

Seminar Nasional “Reaktualisasi Nilai-Nilai Budaya Untuk Menghadapi Bonus Demografi” diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Bone Yogyakarta (FKMB-Y)

Foto Bersama Para Pembicara Seminar Nasional
Bertepatan Hari Kamis, tanggal 27 April 2017, pukul 9.30 WIB Forum Komunikasi Mahasiswa Bone Yogyakarta mengadakan satu kegiatan Seminar Nasional dalam rangka memperingati hari jadi Bone ke-687, tema yang diangkat dalam seminar nasional ini “Reaktualisasi Nilai-Nilai Budaya Untuk Menghadapi Bonus Demografi”, Seminar Nasional ini di selenggarakan di Ruang Interaktif Center Fakultas Sosial Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Seminar Nasional Kebudayaan menghadirkan 3 pembicara yang membawakan materi, diantaranya : Prof. Dr. M. Mukhtasar Syamsuddin, yang mengangkat tentang Quo vadis bonus demografi di Indonesia telaah filsafat terhadap dampak-dampak  yang akan timbulkan , menurut pemaparan mantan dekan Fakultas Filsafat UGM ini, Pertumbuhan penduduk usia kerja yang lebih pesat dibanding dengan pertumbuhan penduduk muda memberikan peluang untuk mendapatkan Bonus Demografi. Selain itu, menurutnya, bonus demografi sangat berkaitan dengan isu kependudukan yang kemudian mengintervensi ekonomi.
Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, Sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) yang akan terjadi pada tahun 2020-2030. Di Era sekarang ini manusia sebagai pengembang pengetahuan dan kebudayaan, tapi sangat ironis manusia sebagai pencipta teknologi justru menjadi objek oleh teknologi (Smartphone) seharusnya kita menjadi subjek teknologi.

Pemateri Kedua Dr. Mustadin Taggala, M.S.i membahas Potensi dan Tantangan Pemuda Menghadapi Bonus Demografi 2020, menurut Dosen Kelahiran Cendrana Kabupaten Bone ini. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia tercatat bahwa pelajar/mahasiswa mempunyai peranan yang sangat penting, diantaranya Kebangkitan Nasional tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, Proklamasi  Kemerdekaan NKRI tahun 1945, Lahirnya Orde Baru tahun 1966, Reformasi tahun 1998. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa dalam peristiwa-peristiwa besar tersebut Pelajar/mahasiswa tampil di depan sebagai motor penggerak dengan berbagai gagasan, semangat dan idealisme yang mereka miliki. Mahasiswa didukung oleh modal dasar yang mereka miliki, yaitu: intelegensi, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menyatakan kebenaran. Dengan kompetensi yang mereka miliki tersebut mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan, mampu menyuarakan kepentingan rakyat, mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan yang koruptif, dan mampu menjadi watch dog lembaga-lembaga negara dan penegak hukum.

Dosen Sekaligus Kaprodi Psikologi UIN Sunan Kalijaga ini juga memaparkan beberapa tantangan Generasi Muda diantaranya :
1) Korupsi belum mampu secara efektif di hilangkan, 2) Organisasi Transnasional mengintai Pancasila dan NKRI, (ISIS dll.),  3) MEA sebagai ancaman atau peluang Kesejahteraan Bangsa, 4) MEA Juga menjadi hal yang sesegera mungkin direspon secara konstruktif, 5) Kerukunan Bangsa masih Sesekali memercikkan Konflik Horizontal,  6) Exploitation risk : persoalan ketenaga kerjaan yang menimpa masyarakat yang tidak siap bekerja (low-skill) & dan yang sedang marak adalah “eksploitasi ideologi” yang menyebabkan banyak anak muda memilih masuk dalam situasi pertentangan politik negara lain atas nama agama, misalnya perang antar ummat Islam di Syiria dll, 7) Competition risk : selain komoditi yang diproteksi akan semakin berkurang, negara kita akan dilanda tenaga kerja terampil, yang pastinya akan menekan akses pekerjaan midle-up bagi kalangan pribumi terutama usia produktif, kondisi terparahnya bisa berupa akses kerja semakin menyempit khususnya pada tenaga fresh graduate.
Menurut Mantan Wakil Ketua FKMB-Y (2004-2005) dan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia ini (2013-2016), relevansi modalitas Kultural Menghadapi Bonus Demografi Masyarakat Bugis memiliki modal kultural yang cukup untuk berkompetisi, yaitu Nilai Budaya “siri”-“ripakasiri”- “masiri”. Siri memiliki dimensi kultural, spritual dan sangat psikologis, Sumber seseorang ripakasiri ada dua yaitu orang lain dan diri sendiri, Orang yang masiri harus melakukan ritual kultural dalam bahasa psikologi disebut “self healing”.
Pemaparan pemateri ke-tiga oleh Dr. Mustaqim Pabbaja, M.A memaparkan tentang “Revitalisasi Cultural Heritage Sebagai Strategi Dalam Menghadapi Bonus Demografi”, menurut Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Teknologi Yogyakarta ini, Kebudayaan Lokal/Daerah sebagai “sumber” bagi kecerdasan kolektif dalam merumuskan tindakan strategis bagi Indonesia dan dunia, Kebudayaan Lokal/Daerah sebagai “fasilitas” dalam mengakses pengetahuan atau kecerdasan kolektif untuk kepentingan akademik dan kebijakan menghadapi tantangan “Bonus Demografi”.

Fungsi Revitalisasi Cultural Heritage pertama , 1) mendorong transformasi masyarakat berkiblat pada “kode moral” budaya local, 2) Memberi legitimasi simbolik bagi kemajuan bersama dalam orientasi (kolektivisme), 3) Menjalankan fungsi kritik sosial (evaluasi atas suatu keabsahan kebijakan) atas praktik sosial dalam penataan wilayah/daerah. Menurut Doktor muda ini, nilai budaya diterjemahkan untuk menghadapi bonus demografi melalui daya nalar kreativitas dan daya cipta, berfikir untuk mempekerjakan orang dan membangkitkan kearipan lokal, sehingga nilai-nilai kebudayaan tidak terkikis begitu saja, seiring perkembangan zaman.

Dari rangkaian seminar tadi, ketiga pembicara sepakat bahwa bonus demografi adalah anugerah yang perlu dikelola dengan baik. Perencanaan kebijakan harus mendukung agar bonus demografi tersebut tidak menjadi bencana. Agar bonus demografi tidak menjadi bencana, maka yang diperlukan adalah peningkatan kemampuan intelektual atau kompetensi yang baik. Saat ini, Negara kita telah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), bonus demografi telah didepan mata. Oleh sebab itu, perlunya kebijakan pemerintah yang berpihak pada pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia.

Saturday, May 06, 2017 Posted by jusmail 0

Melestarikan Budaya di Bumi Mataram, Pagelaran Budaya "Songko To Bone"

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 Pulau dan 1340 Suku ,tentu ini menjadi khazanah bagi Negara yang menjujung tinggi nilai-nilai kebudayaan. Sebuah kebanggaan bagi bangsa ini karena dari sabang sampai maraoke, toleransi berbudaya dan bersuku sungguh sangat di junjung tinggi.
Pagelaran Songko To Bone

Jika kita melihat lebih spesifik lagi disebuah pulau yang menjadi central industry wilayah timur Indonesia, yaitu pulau Sulawesi, pulau yang dulunya terkenal dengan ayam jantan dari timur ini, kini terbentuk beberapa provinsi diantarannya : Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara.

Tentu dengan pemekaran kepulauan Sulawesi ini berdampak besar dalam pertumbuhan ekonomi di masing-masing provinsi, namun dalam aspek budaya tetap mempertahankan budaya-budaya lokal dari timur, terlihat dari perhatian pemerintah setempat untuk selalu memberikan ruang kepada budayawan agar selalu melestarikan budaya nusantara, bahkan dukungan dari pemerintah pusat juga sangat tinggi.

Daerah Istimewah Yogyakarta yang menjadi icon kota pendidikan Indonesia, tentu bisa menjadi kiblat kebudayaan nusantara karena di kota gudeg ini banyak pelajar dan mahasiswa daerah dari semua penjuru nusantara yang melanjutkan study nya di Kota Pelajar ini, terbukti banyak sekali asrama mahasiswa daerah yang memang sudah diberikan oleh pemerintah provinsinya, sebagai wadah untuk menjalin silaturahmi di negeri perantauan dalam menuntut ilmu.

Keberedaan putra-putri daerah yang melanjutkan pendidikan nya dijogja inilah yang memberikan warna di kota pelajar ini, dengan saling bertukar informasi bahkan terkadang mengadakan kegiatan budaya dalam pertunjukan seni budaya nusantara dalam satu wadah IKPMDI (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Indonesia), begitu besar andil IKPMDI di Kota Gudeg ini, sehingga pemerintah DIY memberikan ruang kepada segenap pelajar dan mahasiswa daerah untuk mengekspresikan seni dan budaya daerah masing-masing.

Baru baru ini tanggal 29 April 2017 ada kegiatan pagelaran budaya “Songko To Bone” yang dipentaskan oleh FKMB-Y (Forum Komunikasi Mahasiswa Bone Yogyakarta) di Pendhapa Art Space Yogyakarta, FKMB-Y merupakan sebuah wadah dari mahsiswa dan pelajara yang berdarah Bone, Bone sendiri merupakan sebuah Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan, Pagelaran “Songko To Bone “ ini merupakan kecintaan putra-putri bangsa dengan kebudayaannya, sekalipun mereka di seberang pulau.

Pagelaran Budaya “Songko To Bone” yang tampilkan, merupakan adaptasi dari Kerajaan Bone pada masa kerajaan kisaran tahun 1683 M. Songko dijadikan sebagai pembeda antara pasukan kerajaan Bone dengan pasukan musuh dalam peperangan dam ekspansi kerajaan. Songko Recca menjadi kopiah resmi atau songko kebesaran yang digunakan Raja, Bangsawan dan para ponggawa-ponggawa kerajaan


Indonesia itu kaya akan budaya, ini baru sepenggal cerita dari sebuah kabupaten dimana Bapak Yusuf Kalla (Wapres RI ) dilahirkan Provinsi Sulawesi Selatan ,masih ada 34 provinsi lagi tentu kaya dengan budaya nusantara. Selayaknya memang, sebagai generasi penerus bangsa, kita bangga dengan kebudayaan nusantara yang kita miliki, dengan melestarikan dan meperlihatkan ke dunia bahwa Indonesia kaya akan seni dan budaya dari setiap penjuru pulau yang terbentang dari sabang sampai marauke kami satu dalam bingkai Negara kesatuan Republik Indonesia.
Saturday, May 06, 2017 Posted by jusmail 0

Thursday, 5 January 2017

Tata Cara Perkawinan Adat Bugis Bone



Setiap suku bangsa di dunia tentu memiliki adat kebiasaan atau tradisi yang menjadi ciri khas daerahnya, demikian pula Suku Bugis khususnya Bugis Bone. Berikut ini kami akan paparkan secara lengkap tentang kronologis dan tata bahasa yang sering digunakan oleh Suku Bugis dalam melaksanakan hajatan pernikahan.
I. MAMMANU'-MANU' = MAPPESE'-PESE' = MAPPAU RI BOKO TANGE' = MABBALAWO CICI = MABBAJA LALENG, yang memiliki arti : menjajaki, melakukan pendekatan, membuka jalan, merintis.
II. LETTU' = MASSURO = MADDUTA, artinya : melamar,  meminang, atau menyampaikan lamaran yang dilakukan oleh salah seorang atau masing-masing duta dari kedua belah pihak untuk berdialog. Waktu melamar ini belum melibatkan banyak orang, biasanya paling banyak 3-5 orang dari masing-masing pihak (kedua duta).
III. MAPPASIAREKENG, artinya mengukuhkan kembali apa yang telah disepakati oleh kedua duta yang dihadiri oleh sesepuh dari masing-masing pihak. Dalam pelaksanaannya belum melibatkan banyak orang, yaitu cukup kedua duta bersama sesepuh dari masing-masing pihak. Pada tahap inilah ditentukan waktu pelaksanaan Mappettu Ada yang artinya mengambil keputusan. Setelah ada kesepakatan barulah kemudian dilaksanakan.
IV. MAPPETTU ADA, artinya mengambil keputusan bersama terkait dengan segala sesuatunya yang akan dilaksanakan, termasuk kesepakatan duta terdahulu dan selanjutnya kesepakatan waktu itu mengenai :
1. SOMPA atau SUNRANG, yaitu mahar atau mas kawin, sebagai hukum syariah.
2. DOI MENRE' = BALANCA, artinya uang naik, sebagi hukum adat.
3. LEKO' atau ALU' = KALU = ERANG-ERANG = TIWI-TIWI, artinya bawaan atau seserahan. dalam bahasa Bugis Bone disebut Passuro yang dihantarkan sewaktu hari pelaksanaan akad nikah.

4. ACCATAKENG, artinya pencatatan nikah pada penghulu (KUA) dan termasuk biayanya.
5. PAKEANG BOTTING, artinya busana pengantin yang akan disepakati.
6. TONANGENNA, artinya kendaraan yang dibutuhkan dari kedua belah pihak.
7. TANRA ESSONA, artinya pelaksanaan hari "H" mencakup :
a. Mappaenre' Botting, artinya mengantar calon pengantin laki-laki ke rumah calon pengantin perempuan untuk melaksanakan akad nikah.
b. Akkalabinengenna, artinya akad nikah.
c. Mapparola, artinya  sesudah akad nikah, pengantin perempuan bersama pengantin laki-laki diantar ke rumah pengantin laki-laki.
d. Aggaukeng, artinya pelaksanaan pesta atau resepsi dari kedua belah pihak.
V. Kegiatan selanjutnya dari masing-masing pihak sesuai kemampuan misalnya :
1.  MASSARAPO = MABBARUGA, artinya tempat pelaksanaan pesta disiapkan.
2. MAPPALETTU' SELLENG = MATTAMPA, artinya menyampaikan undangan kepada handai taulan dan kerabat lainnya.
3. Kedua calon pengantin sangat dibatasi lingkup geraknya demi menghindari hal-hal yang tidak diharapkan. Dalam istilah bahasa Bugis Bone disebut RAPO-RAPONNA
4. Khusus calon pengantin perempuan disebut RIPALLEKKE atau RIPASSOBBU, artinya dipingit ditempatkan pada suatu kamar khusus. Nanti muncul setelah 5 atau 3 hari sebelum akad nikah.

5. Selama dipingit sampai hari pelaksanaan akad nikah, banyak acara ritual yang masing-masing punya makna atau simbol, dalam bahasa Arab disebut TAFAUL dan dalam bahasa Bugis disebut SENNU-SENNUANG atau SENNU-SENNUENGENG, antara lain :
a. Mabbedda' Bolong, artinya memakai bedak hitam dari beras yang sudah disangrai atau digoreng sampai hangus tanpa minyak dan ditumbuk bersama bangle sampai halus. Untuk pemakainannya dicampur dengar jeruk nipis, baru dioleskan kebagian anggota tubuh utamanya wajah, lengan, kaki, dan lainnya, dibiarkan sampai kering dan lengket betul. Hal ini persiapan untuk mandi sebagai lulur.
b. Ripasau, artinya mandi uap.
c. Cemme Passili, artinya mandi tolak bala (cemme tula' bala).
d. Macceko, artinya membuka atau mencukur bulu-bulu halus pada bagian tertentu, untuk memuluskan kulit utamanya wajah sebelum acara Tudang Penni (Malam Pacar).
e. Tudang Penni atau malam pacar pada umumnya dilaksanakan seperti : khatam Al-Qur’an, Barzanji, Mappacci dan kegiatan lainnya sampai pagi. Kegiatan ini persiapan untuk menunggu calon pengantin pria dalam pelaksanaan akad nikah esok harinya.

VI. Pelaksanaan akad nikah dalam bahasa Bugis Akkalaibinengeng  atau Appasialang, sebagai acara puncak yang sakral, dengan resminya menjadi pasangan suami-isteri. Sebelum acara akad nikah dan sesudahnya, masih banyak acara yang perlu dilaksanakan dari kedua belah pihak, seperti :
1. Pihak perempuan lebih awal mempersiapkan segala sesuatunya menunggu kedatangan rombongan dari pihak laki-laki dalam bahasa Bugis disebut Madduppa Botting.
2. Pihak laki-laki juga demikian halnya, untuk menuju kediaman calon pengantin perempuan lengkap dengan bawaannya yang disebut Leko' serta Walasuji dan maharnya diantar oleh sanak saudara, handai taulan, kerabat keluarga bahkan pinisepuh/sesepuh. Rombongan tersebut  dalam bahasa Bugis disebut Pampawa Botting/Pattiwi Botting atau Pappapenning.
3. Sesudah pelaksanaan akad nikah ada pula acara yang disebut Mappasiluka atau Mappasikarawa artinya membatalkan wudhu yakni pengantin pria menuju kamar pengantin wanita (isterinya) untuk bersalaman sebagai pertanda sudah sahnya hubungan mereka sebagai suami-isteri. Pada saat inilah Inang Botting/Indo’ Botting dari pihak perempuan dan " Amang Botting/Ambe’ Botting dari pihak laki-laki menggunakan baca-bacanya atau mantra, agar pasangan ini dapat menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warohmah.
4. Sesudah acara tersebut, pasangan pengantin keluar dari kamar selanjutnya menemui orang tua/pinisepuh untuk menyampaikan permohonan maafnya, memohon doa restunya agar segala kesalahan, dosa, dan kedurhakaannya dimaafkan agar mereka dapat hidup bahagia, sejahtera, aman, dan damai dunia-akhirat. Dalam bahasa Bugis disebut Mellau Addampeng, dalam bahasa Jawa disebut Sungkeman.
5. Sesudah acara tersebut, keduanya diantar menuju baruga untuk duduk bersanding di atas pelaminan yang disaksikan para tamu undangan yang hadir.
6. Setelah rombongan atau pengantar pengantin pria sudah pulang, maka dari pihak wanita mempersiapkan rombongannya untuk mengantar pengantin wanita bersama pengantin pria, sebagai umpan balik sekaligus pengantin wanita menemui mertuanya/pinisepuh dari pihak pria. Kegiatan ini disebut Mapparola sekaligus Mammatowa dalam bahasa Bugis. Kegiatan ini dapat dilakukan apabila jarak tempat keduanya berdekatan karena acara pesta atau Aggaukeng dari pihak perempuan dilaksanakan pada malam harinya (pada hari tersebut). Adapun kalau tempat berjauhan maka pada hari itu belum dilaksanakan acara Mapparola, nanti esok harinya dilaksanakan, maka acara ini disebut Marola-Mabbenni untuk pertama kalinya.
7. Waktu pelaksanaan Marola, maka acara pesta dari pihak pria baru dilaksanakan.
8. Setelah keduanya telah melaksanakan pesta, maka pasangan suami isteri ini dapat dikatakan mandiri. Dalam bahasa Bugis disebut Nalaowwanni Alena. Namun masih ada kegiatan-kegiatan yang perlu dilalui seperti :
a. Marola Wekkadua, artinya pengantin perempuan diantar oleh dua atau tiga orang perempuan untuk bersama-sama ke rumah pengantin laki-laki dengan pakaian biasa dan bermalam satu malam. Pada subuh harinya, pengantin bersama pengantarnya kembali sesudah sarapan. Maka pada saat itu mertua pengantin wanita memberikan hadiah kepada menantunya.
b. Ada pula yang disebut acara MAPPITU dari pihak laki-laki, yaitu tujuh orang wanita tua berbaju Ponco' atau Waju Tokko' dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Makassar disebut Baju Bodo bersama tiga orang tua lainnya, datang ke rumah pengantin wanita dengan membawa kue-kue adat seperti : dodoro', baje, beppa pute, beppa laiyya, cucuru' tenne, dan lain-lain. Kedatangan tersebut dimaksudkan silaturahim dalam membina kerukunan keluarga yang dalam bahasa Bugis disebut Massita Baiseng.
c. Mabbarazanji yang dimulai keluarga wanita kemudian disusul oleh keluarga pihak pria. Ini sebagai pertanda rasa syukur atas terlaksananya apa yang diharapkan. Pada acara ini, pengantin bisa bermalam bisa juga tidak. Dan pada saat itu pula dilaksanakan suatu kegiatan yang lazim disebut Malluka Sarapo.
d. Poleang Punge', artinya setelah acara Mabbarazanji dilaksanakan, maka subuh esok harinya, pengantin pria kembali ke rumahnya untuk mengambil seperti: Gula Merah (manis), Kelapa (gurih), dan Telur (bulat/menyatu). Hal ini dimaksudkan sebagai simbol atau Tafaul atau Sennu-sennuang. Agar semoga kehidupannya kelak serba berkecukupan, yang dalam bahasa Bugis mengatakan Tennapodo Macenning Malunra' Atuwong-tuwong Linona dan senantiasa menyatu. Barang tersebut diteruskan ke pangkuan sang isteri sebagai symbol penghasilan pertama dari suami (Poleang Punge') dan langsung disimpan oleh sang isteri.
e. Selanjutnya ziarah kubur dan mandi-mandi. Sebenarnya prosesi ini tidak masuk dalam rangkaian inti acara pernikahan adat Bugis, namun menjadi kebiasaan bagi mereka yang telah melaksanakan hajat besar seperti pernikahan, untuk menyiarahi makam leluhur atau keluarga yang telah mendahuluinya.


Demikian rangkaian pokok dalam prosesi pernikahan Adat Bugis. Selanjutnya kami akan paparkan tata bahasa atau ungkapan dalam bahasa Bugis pada waktu melamar dari pihak laki-laki dan ungkapan dari pihak perempuan. (Red A.M)

Thursday, January 05, 2017 Posted by jusmail 0

Saturday, 29 October 2016

Kisah Legenda Dari Tanah Bugis

Alkisah menurut tutur legenda, adalah seorang Panrita AnrE Guru (Sang Guru Panrita) dikenal sebagai seorang yang Sule'sana na Mujarrabe' (Arif nan Mumpuni). Pada suatu ketika, baginda mengadakan muhibah ke perbatasan negeri Bone dengan negeri Wajo, yakni : Pompanua.

Mengetahui jika Sang Panrita tersebut berada di Pompanua, maka segenap raja-raja besar tetangganya berkunjung seraya meminta petuah dan wasiat berharga bagi negerinya masing-masing. Mereka adalah Petta Mangkau'E BonE, Arung Matowa Wajo, Datu SoppEng dan Addituang SidEnrEng. Namun Sang Panrita berujar, "NarEkko paddissengeng mabbarakka' pada nakkattai DatuE, madEcEngngi narEkko bajapi maElE naengkang naripasilolongeng wErEwE.." (sekiranya ilmu berkah yang dikehendaki para junjungan, maka sebaiknya besok pagi kiranya dapat dipertemukan bersama sesuai takdir masing-masing..). Maka keempat Raja Besar Tanah Bugis itu kembali ke markasnya masing-masing.

Esok harinya, menjelang fajar tibalah kembali Arung Matowa Wajo di kediaman Sang Panrita. "Agaro pangElorenna Arung MatowaE lao ri tanana ?" (Apa gerangan keinginan Arung Matowa bagi negerinya ?), tanya Sang Panrita. "Naiyya minasakku, maEloka' asogireng napunnai To Wajo'E" (adapun kehendakku, kiranya orang-orang Wajo itu memiliki kekayaan harta benda..), jawab Arung Matowa. Maka Sang Panrita pun mengajarkan hikmad "asogireng" (kekayaan duniawi) pada Sang Arung Matowa. "iyanaro nassabari namaEga tosogi polE ri Wajo. NarEkko engka Ogi sogi ri saliwengpanua, inamoo naseng alEna Tau polE ri BonE, Soppeng iyarE'ga SidEnrEng, naEkiya manessa engka abbatirengna polE ri Wajo.." (itulah sebabnya sehingga banyak hartawan dari kalangan orang Wajo, Jika anda mendapati seorang kaya di daerah perantauan walaupun sekiranya ia menyatakan diri dari BonE, SoppEng ataukan SidEnrEng, namun mestilah ia memiliki darah Wajo dalam dirinya..).

Setelah Arung Matowa meninggalkan Pompanua, tibalah Petta Mangkau'E ri BonE di tempat itu. Baginda meminta pula hikmad kekayaan duniawi. "Nalani Wajo.. Ellauki' laingngE" (sudah diambil Wajo.. mintalah yang lain), jawab Sang Panrita. Maka ArumponE meminta hikmad "Awaraningeng" (keberanian), ilmu para ksatria. "Iyatoonaro saba' nawarani TobonEdE.. narEkko engka Towarani mulolongeng, manessanitu engka abbatirengna polE bonE.." (itulah sebabnya sehingga sehingga ksatria banyak didapati dari kalangan orang Bone. Sekiranya anda mendapati orang berani, mestilah ia memiliki darah Bone..".

Maka tiba pulalah Datu SoppEng di Pompanua. Baginda meminta hikmad kekayaan. "nalani Wajo.." (sudah diambil orang Wajo), jawab Sang Panrita. Maka baginda meminta hikmad keberanian. "nalatoni BonE.." (sudah diambil pula orang BonE), timpal Sang Mahaguru pula. Akhirnya Datu Soppeng meminta "AsagEnang AnrE" (kecukupan makanan). "narEkko engka naengka sEuwwa wettu tasidapi lEppang ri bolana sEajing TosoppEngta, narEkko natoanaki' waE pella, nannasuangtoni'tu nanrE siagang pakkanrEang pawessori.. nasaba' masagEna mEmengngi anrEna TosoppEngngE.." (sekiranya pada suatu ketika anda bertamu pada salahsatu rumah keluarga di SoppEng, jika tuan rumah menghidangkan secangkir teh hangat, maka pastilah ia sedang menanak nasi pula beserta lauknya yang mengeyangkan perut bagi anda. Karena memang orang SoppEng itu diberkahi kecukupan pangan adanya..)

Akhirnya tibalah Addituang SidEnrEng di Pompanua. Ketiga Raja sejawatnya telah lama meningalkan tempat itu. Sang Addituang meminta hikmat Kekayaan namun telah diambil oleh Wajo. Lalu ia meminta pula rahasia Keberanian, tapi Bone telah mengambilnya terlebih dahulu. Maka baginda meminta ilmu Kecukupan pangan, namun Soppeng telah mengambinya pula. Tinggal satu ilmu kikmat yang tersisa, yakni : PanrE Ada (ahli diplomasi). Maka apa boleh buat, kiranya hanya itulah yang dapat dipelajari Addituang SidEnrEng. "..Ejaji naiyya TosidEnrEngngE malise'i na mateppu wErEkkadana.." (maka sesunguhnya orang-orang SidEnrEng mengatur kalimat yang berisi dan jelas adanya..)

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut jika ditinjau dari sudut pandang sejarah, beberapa hal menarik untuk disimak untuk mengenal karakteristik kemasyarakatan masing-masing 4 wilayah besar yang mewakili tanah Bugis pada umumnya. Walaupun tentu saja kisah tersebut dapat disanggah oleh petuah lama lainnya, yakni antara lain : Aja' lalo naEnrE' bola limaE passaleng : NapalEcEwE To Wajo, nagelliE To BonE, narumpa'E To SidEnrEng, nagerra'E To EnrEkeng, nadoti To Menre'.. (semoga kiranya tidak akan pernah terjadi menimpa kita pada lima hal : dibujuk oleh orang Wajo, dimarahi orang Bone, diserbu oleh orang SidEnrEng, dibentak orang EnrEkang, diteluh orang Mandar...).

Selintas kedua petuah lama mengenai karakter masyarakat tersebut agak berbeda, namun jika dicermati lebih dalam maka didapati kesesuaian, terlebih pula jika menjenguk kurun waktu serta latar belakang lahirnya petuah tersebut. Orang-orang Wajo digambarkan oleh kisah petuah sebagai hartawan, maka keahliannya untuk "membujuk" merupakan karakter khas yang mutlak sebagai "basic skill" bagi seorang penjual maupun saudagar. "Naiyya To Wajo'E nalebbireng nakurangiE balanca naiyya nakurangiE bicara.." (Sesungguhnya orang-orang Wajo itu lebih memilih kehabisan uang daripada kehabisan bicara..), demikian ungkapan yang kerap didengar perihal orang-orang Wajo.

Adapun halnya "keberanian" yang dikhaskan bagi orang BonE, dibenarkan atau setidaknya memiliki relevansi pada petuah kedua bahwa watak seorang pemberani tidak mudah marah namun biasanya sulit dipadamkan sekiranya sudah marah. Begitu pula dengan orang SidEnrEng yang digambarkan sebagai "PanrE Ada" (Ahli Diplomasi) yang diperwatakkan sebagai "Parumpa'" (penyerbu) pada petuah kedua. Pada beberapa kejadian yang juga ditulis pada beberapa Lontara, bahwa Kerajaan SidEnrEng memiliki negarawan yang ahli diplomasi, yakni : NEnE Mallomo. Selain itu, salahsatu anak negeri SidEnrEng yang terkenal pula sebagai negeri para PanrE Ada, yakni : Lise'.


Banyak kisah-kisah lucu tentang kepiawaian orang Lise' dalam hal "memainkan bahasa" yang banyak dituturkan hingga kini, mengingatkan kita pada kisah-kisah Mullah Nasruddin Hoja dan Abu Nuwaz. Kemudian pada suatu ketika SidEnrEng disebut pula sebagai 
"Parumpa'" (penyerbu) berdasarkan gambaran lontara bahwa pada beberapa peristiwa Kerajaan SidEnrEng kerap menyerbu Kerajaan-Kerajaan kecil yang bertetangga dengannya akibat pertaruhan yang dimenangkannya berkat permainan silat lidah. Ketika kerajaan kecil yang kalah bersilat lidah tersebut mengalami kekalahan dalam pertaruhan, maka ia "enggan" untuk menyerah. Maka tidak bisa tidak, Kerajaan SidEnrEng terpaksa menyerbunya dengan menggunakan kekuatan militer untuk merebut kemenangannya.

Hingga akhirnya, bagaimana pula halnya dengan penggambaran karakter orang-orang Soppeng menurut cerita tersebut diatas ?. Bahwa orang-orang Soppeng dikaruniai "asagEnang" (kecukupan, kelapangan) dalam hal pangan. sebagai cerita real yang pernah dialami langsung bersama Sekretaris Dinas Olahraga, Pemuda dan Pariwisata Kota Parepare mengadakan perjalanan dinas ke Tanjung Bira. Ketika perjalanan tiba di Takkallalla (Soppeng), Pak Sekretaris mengajak singgah pada salahsatu rumah keluarga beliau. Maka Tuan Rumah menyambut seraya menghidangkan teh hangat beserta kue-kue kering. Setelah bercakap-cakap selama beberapa saat, tibalah saatnya kami mohon pamit untuk meneruskan perjalanan. Namun tuan rumah dengan amat santun dan serius menahan kami untuk bersantap siang. "TabE kasi'na.. EbarE' wedding pada mattajengki cinampe'. Nasaba' mannasui anurEta ilaleng.. Purapi' pada manrE esso tapatterru'i lawangetta" (mohon maaf.. kiranya anda sekalian dapat menunggu sebentar. Karena kemenakan anda sedang memasak makanan di dapur.. Nantilah setelah bersantap siang barulah melanjutkan perjalanan).

Begitu pula di Tahun 2010 Bertepatan ada kegiatan safari pendidikan di Kabupaten Bone, kami ke salah satu daerah pedalaman di bone tepatnya di Bontocani kecamatan kahu , setelah kegiatan safari pendidikan kami di daerah ini sekitar 2 hari kami mengunjungi beberapa SMA dan MA sederajat di Bone bagian selatan ini yang konon terkenal dengan Lumbung padi dan Produksi Gulanya, kami bersama rombongan sekitar ada 8 motor melanjutkan untuk mengunjungi sebuah goa di pedalaman Bontocani, dengan penuh kebahagian untuk mengunjungi wisata goa kami bergegas ,start dari ba'da ashar kami sampai di lokasi sekitar 17.40, tepat mau masuk magrib sementara ada susana yang beda kami rasakan setiba kami di kampung dimana lokasi Goa berada, kami di gerumuni oleh anak-anak kecil yang begitu gembira dengan kedatangan kami bahkan mereka mau mengatarkan kami sampai ke mulut goa, setalah melihat dan menikmati suasana goa kami beranjak untuk pulang karena hari sudah petang.

Karena waktu magrib sudah tiba kami memutuskan untuk sholat dulu dan bertanya ke salah satu penduduk kampung itu "tabe daeng tega mondro masiji'e" (maaf tuan dimana letak masjid) . dengan senyum bapak itu menjawab "wah mabela ndi kodi cappa' kamponge' mondro" (masjid berada di ujung kampung ini). dan beliau menawarkan sholat di rumah saya saja, akhirnya kami memutuskan untuk menerima tawaran dari bapak ini. setelah kami shalat malah kami ditahan jangan balik dulu silahkan makan dulu kebetulan kami sudah membuat kue tripang (salah satu kua andalan bugis) dan disuguhi air teh hangat. 

Desa yang jauh dari dari ibukota kecematan apalagi dari ibukoa kabupaten bone bahkan didesa ini masih mempergunakan mesin diasel sebagai pangalir listrik untuk menerangi jika malam tiba, namun keramahan warganya luar bisa, kami bersyukur karena kami berada di kampung orang tua kami tanah arung palakka dengan keramahan dan pangadareng luar biasa bagi kami, kenapa kami bilang begini?..karena kami mahasiswa-mahsiswi yang kuliah dijogja dan tidak kenal dengan tuan rumah bahkan asing bagi kami daerah ini, namun karena ingin mengetahui daerah dimana orang tua kami dilahirkan, bismillah kami berangkat dan hamdalah kami bisa mengambil banyak pelajaran. 

dari kisah di atas semoga nilai-nilai kebudayaan yang tertanam dalam jiwa bugis baik bugis wajo yang terkenal dengan kepiayawannya dalam berdagang, bugis bone yang mempuyai keberanian, soppeng yang selalu diberikan asegenang Anre' dan SidenDreng punya kepiawaian dalam berdiplomasi, tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami, apalagi di era seperti sekarang tentu menjadi tugas besar bagi kita semua untuk menjaga nilai nilai yang luhur ini aga tidak terkikis oleh perkembangan zaman dan pengaruh era globalisasi.
Saturday, October 29, 2016 Posted by jusmail 0

Monday, 1 April 2013

Situs Sejarah Bugis Bone





Situs Sejarah Bugis Bone merupakan lokasi atau tempat yang menjadi sejarah bagi rakyat Bugis Bone dan juga menjadi bagian tempat sejarah negara Indonesia. Lokasinya disekitar Watampone Kabupaten Bone Sulawesi Selatan.

Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atauorang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Kerajaan Bugis klasik antara lain
Luwu,
Bone,
Wajo,
Soppeng,
Suppa,
Sawitto,
Sidenreng,
Rappang.
Situs Sejarah Bugis Bone

Bola Soba dan Bola Ade Pitue (?) (Rumah Adat) Bone
Rumah yang berbentuk panggung dan biasanya memiliki 3 bagian yaitu bagian atas, tengah dan bawah. RUmah ini menjadi inspirasi bagi pembangunan Rumah Besar (Saoraja). Bagian atas untuk menyimpan (lumbung) padi/makanan. Tempat tinggal ada di bagian tengah. Sejak jaman Belanda sudah jarang dibangun Rumah Adat Bone dengan kayu, lebih banyak dari semen. Sekarang masih tersisa di daerah Watampone.

Situs Perjanjian Tellu (Telu) Boccoi
Tempat perjanjian Raja Bone, Raja Wajo dan Raja Soppeng. Bunyi perjanjian itu "Barang siapa pihak kerajaan yang melihat cahaya titik cahaya terang, maka kerajaan itu yang berhak memberitahu saudara-saudaranya yang berjanji". Inilah kesepakatan ketiga kerajaan itu dalam menghadapi musuh-musuh yang ingin menghancurkan daerah tersebut. Mereka bekerjasama, sebuah perjanjian suci untuk saling bahu-membahu menghadapi musuh.

Patung Arung Palakka
Raja pemersatu rakyat Bugis dan wilayah Sulawesi, gagah berani dan mempunyai sifat terpuji. Pahlawan Bone, Pahlawan Kemanusiaan. Arung Palakka yang mengeluarkan masyarakat Bone dari garis kemiskinan dan tindasan kerajaan lain.

Masjid Tua Al-Mujahidin Watampone
Merupakan salah satu jejak Islam di Tanah Bone. Berada di tengah-tengah kota Watampone. Mesjid ini masih asli dan merupakan salah satu dari jejak Islam di Sulawesi. Memiliki sebuah tembok pertahanan dengan tebal sekitar 1 meter.

Makam Raja-raja Bone
Makam Raja Bone ke 13 dan 21 Kalokkoe berada di belakang Mesjid Tua Al-Mujahidin. Makam Raja Bone memang tersebar di Lalebata, Naga Ulun, Luwu, Bukaka, Bantaeng, Makassar, bahkan ada di Tanah Kalibata.

Kawasan Tanah Bangkalae
Dahulu kerajaan di tanah Sulawesi sering terjadi selisih paham semisal antara Kerajaan Goa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Luwu. Untuk mempersatukannya dibentuklah simbol pemersatu ketiga kerajaan itu. Tanah Bangkalae itu merupakan penyatuan tanah dari 3 kerajaan tersebut dengan tujuan agar ke-3 kerajaan tersebut bersatu. Menjadi tempat pelantikan raja yang dimulai dari Raja Bone saat itu yaitu Raja Bone ke 16. Tanah Bangkalae adalah tanah tempat pelantikan raja, berwarna kemerah-merahan, dan dianggap sebagai Tanah Dewa.

Situs Manurunge (To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang atau Mata Silompoe)
Disinilah tempat terjadi kontrak pemerintah Rakyat Bone (Tujuh raja-raja kecil) dengan Manurung E.rimatajang Raja Bone Pertama pada tanggal 16 April 1330 dan menjadi hari lahirnya Kabupaten Bone. Berada di lokasi Kecamatan Tanete Riatan. Manurung merupakan manusia suci yang turun dari langit. Manurunge adalah pemersatu rakyat yang bertikai saat itu (matoa-mata) ke dalam Kerajaan Bone. Raja Manurung E.ri sebenarnya tidak diketahui asal usulnya sehingga di gelar Manusia Suci yang Turun dari Langit.

Berkata rakyat Tana Bone,

"agar menetaplah di Tanah Bone dan engkau yang kami angkat menjadi raja untuk memimpin kami, namun anak dan istri kami, bila engkau tidak menyetujuinya, kamipun menurut kepadamu, asalkan engkau
.... keselamatan kami dan ....."

Maaf tulisan tidak lengkap

Dan berkata Manurung E.ri,
"Saya menjunjung tinggi di atas kepala saya dan menghargai kata-kata dan persatuanmu untuk mengangkat saya menjadi raja."

Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat

Soraja Petta Panggawae
Rumah Besar Bola Soba bertingkat 5 milik seorang raja Bone untuk panglimanya. Rumah ini adalah Istana Panglima Perang Bone dengan atap bertingkat 4, sedangkan rumah Raja memiliki atap bertingkat 5. Sekarang menjadi tempat pelestarian budaya Bugis Bone.

Museum Lapawawoi Saoraja
Merupakan rumah Raja Bone ke-31, Andi Mapparinggi bergelar LAWAWOWOI KARAENG SIGERI MATINROE RI BANDUNG, yang dijadikan sebagian rumahnya dijadikan museum Bugis Bone. Museum ini menjadi tempat penyimpanan benda-benda seni dan budaya tradisional Bugis Bone. Dahulunya pernah menjadi gedung DPRD Kabupaten Bone. Menyimpan gambar raja-raja Bone dan benda-benda duplikat upacara adat istiadat Bone.

Museum Arajang
Menyimpan benda-benda milik Arung Palakka yang juga merupakan benda-benda pusaka seperti Payung Emas, Payung Perak, Sarung dan Pegangan, serta Selempang/Salimpang Emas (Sembangengpulaweng) yang panjangnya 177 cm dengan berat 5 kg emas murni 24 karat. Setiap tahunnya dilakukan pembersihan benda-benda bersejarah dan sakral tersebut.Museum ini dibuka setahun sekali pada hari jadi Tanah Bone mengingat banyak benda bersejarah yang sangat perlu dilindungi.
DAFTAR RAJA-RAJA BONE
1.             MANURUNGNGE RIMATAJANG MATASILOMPOE (1330 - 1365)
2.             LA UMMASA PETTA PANRE BESSIE (1365 - 1368)
3.             LA SALIU KERANG PELUA (1368 - 1470)
4.             WE BENRIGAU MALLAJANGNGE RI CINA (1470 - 1510)
5.             LA TENRI SUKKI MAPPAJUNGE (1510 - 1535)
6.             LA ULIO BOTOE MATINROE RI ITTERUNG (1535 - 1560)
7.             LA TENRI RAWE BONGKANGE MATINROE RI GUCINNA (1560 - 1564)
8.             LA ICCA MATINROE RI ADDENENNA (1564 - 1565)
9.             LA PATTAWE MATINROE RI BETTUNG (1565 - 1602)
10.          LA TENRI TUPPU MATINROE RI SIDENRENG (1602 - 1611)
11.          LA TENRI RUWA SULTAN ADAM MATINROE RI BANTAENG (1611 - 1616)
12.          LA TENRI PALE MATINROE RI RI TALLO (1616 - 1631)
13.          LA MADDAREMMENG MATINROE RI BUKAKA (1631 - 1644)
14.          LA TENRI WAJI ARUNG AWANG MATINROE RI SIANG ( PANGKEP) (1644 - 1645)
15.          LA TENRI TATTA DAENG SERANG MALAMPEE GEMMENA ARUNG PALAKKA (1645 - 1696)
16.          LA PATAU MATANNA TIKKA MATINROE RI NAGAULENG (1696 - 1714)
17.          BATARI TOJA SULTAN SAINAB SAKIYATUDDING (1714 - 1715)
18.          LA PADASSAJATI TO APPAWARE SULTAN SULAEMAN PETTA RI JALLOE (1715 - 1718)
19.          LA PAREPPA TO SAPPEWALI SULTAN ISMAIL MATINROE RI SOMBA OPU (1718 - 1721)
20.          LA PANAONGI TO PAWAWOI ARUNG MAMPU KARAENG BISEI (1721 - 1724)
21.          BATARI TOJA DATU TALAGA ARUNG TIMURUNG (1724 - 1749)
22.       LA TEMMASSONGE TO APPAWALI SULTAN ABDUL RAZAK MATINROE RI MALIMONGENG (1749 - 1775)
23.          LA TENRI TAPPU SULTAN ACHMAD SALEH MATINROE RI ROMPEGADING (1775 - 1812)
24.          TO APPATUNRU SULTAN ISMAIL MUHTAJUDDIN MATINROE RI LALENG BATA (1812 - 1823)
25.          I MANI RATU ARUNG DATA SULTAN RAJITUDDIN MATINROE RI KESSI (1823 - 1835)
26.          LA MAPPASELING SULTAN ADAM NAJAMUDDIN MATINROE RI SALASSANA (1835 - 1845)
27.         LA PARENRENGI SULTAN AKHMAD MUHIDDIN ARUNG PUGI MATINROE RI AJANG BENTENG (1845 - 1857)
28.    WE TENRI WARU SULTANAH UMMULHUDA PANCAITANAH, BESSE KAJUARA PELAINGI PASEMPE (1857 - 1860)
29.          ACHMAD SINGKERUKKA SULTAN ACHMAD IDRIS MATINROE RI PACCING (1860 - 1871)
30.          FATIMA BANRI DATU CITTA MATINROE RI BOLAMPARENA (1871 - 1895)
31.          LAWAWOWOI KARAENG SIGERI MATINROE RI BANDUNG (1895 - 1905)
32.          LAMAPPANYUKKI SULTAN IBRAHIM MATINROE RI GOWA (1931 - 1946)

Monday, April 01, 2013 Posted by jusmail 0